Mengasah Resiliensi: Mengatasi Rintangan dalam Hidup

Resiliensi, atau daya tahan, merupakan kemampuan seseorang untuk bangkit kembali setelah mengalami rintangan atau kesulitan dalam hidup. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai rintangan yang mencoba menghalangi kita untuk meraih tujuan dan impian kita. Namun, dengan mengasah resiliensi, kita dapat belajar bagaimana mengatasi rintangan tersebut dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Menurut psikolog Amy Morin, “resiliensi bukanlah sekadar keberanian atau kekuatan, tetapi juga kesabaran, ketekunan, dan kemampuan untuk bertahan di tengah-tengah kesulitan.” Dengan memahami konsep ini, kita dapat memulai proses mengasah resiliensi dalam diri kita untuk menghadapi rintangan dalam hidup.

Salah satu cara untuk mengasah resiliensi adalah dengan mengubah pola pikir kita terhadap rintangan. Dr. Karen Reivich, seorang psikolog yang juga penulis buku The Resilience Factor, mengatakan bahwa “mengubah cara berpikir kita tentang kesulitan bisa membantu kita menghadapinya dengan lebih baik.” Dengan memandang rintangan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang, kita dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi rintangan tersebut dengan lebih baik.

Selain itu, penting juga untuk memiliki dukungan sosial ketika menghadapi rintangan. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychiatry and Clinical Neurosciences, memiliki jaringan sosial yang kuat dapat membantu seseorang mengatasi stress dan mengembangkan resiliensi dalam menghadapi rintangan hidup.

Tidak hanya itu, menurut psikolog dan penulis buku Resilience: The Science of Mastering Life’s Greatest Challenges, Steven Southwick, kesempatan untuk mengasah resiliensi seringkali datang dari mengalami rintangan dan kesulitan dalam hidup. “Ketika kita berhasil mengatasi rintangan, kita akan merasa lebih kuat dan mampu menghadapi rintangan berikutnya dengan lebih baik,” katanya.

Dengan memahami pentingnya mengasah resiliensi, kita dapat belajar bagaimana mengatasi rintangan dalam hidup dengan lebih baik. Dengan mengubah pola pikir, memiliki dukungan sosial yang kuat, dan melihat rintangan sebagai peluang untuk tumbuh, kita akan mampu bangkit dan berkembang meskipun dihadapkan pada berbagai rintangan dalam hidup.

Sumber:
– Morin, Amy. “Resilience Is Not About Toughness.” Psychology Today, 13 June 2016.
– Reivich, Karen. The Resilience Factor. Broadway Books, 2003.
– Ozbay, Fatih, et al. “Social Support and Resilience to Stress: From Neurobiology to Clinical Practice.” Psychiatry and Clinical Neurosciences, vol. 72, no. 6, 2018, pp. 369-382.
– Southwick, Steven. Resilience: The Science of Mastering Life’s Greatest Challenges. Cambridge University Press, 2012.

Categorized Tag Cloud

Tags

Dampak Togel Bagi Bagi Kesehatan mental