Asertivitas Pria vs Wanita: Menjaga Kesetaraan Tanpa Meniadakan Karakter Gender

Apakah Anda pernah merasa bahwa ada ekspektasi yang berbeda dalam hal asertivitas antara pria dan wanita? Bagi sebagian orang, stereotype gender ini dapat mempengaruhi cara kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Namun, penting untuk diingat bahwa asertivitas tidak seharusnya berkaitan dengan karakter gender seseorang.

Asertivitas adalah kemampuan untuk mengungkapkan kebutuhan, pikiran, dan perasaan kita dengan jelas dan tegas, tanpa melanggar hak dan kebutuhan orang lain. Ini berarti bahwa baik pria maupun wanita memiliki hak dan kemampuan yang sama ketika datang untuk menjadi asertif.

Seorang psikolog terkenal, Dr. Alberti, menjelaskan bahwa asertivitas adalah tentang “menyatakan apa yang kita ingin dan perlu dalam cara yang penuh penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain.” Ini berarti bahwa ketika kita menjadi asertif, kita tidak perlu melibatkan karakter gender kita.

Tentu saja, sebuah penelitian oleh para peneliti di Universitas Sheffield menyatakan bahwa pria dan wanita mungkin memiliki gaya asertif yang berbeda. Namun, ini bukanlah fungsi dari karakter gender itu sendiri, tetapi lebih kepada pengalaman hidup, pembelajaran, dan lingkungan.

Menghubungkan asertivitas dengan karakter gender juga dapat mendorong stereotipe yang merugikan kita semua. Seorang feminis terkenal, bell hooks, pernah berkata, “Saya tidak mau menciptakan dunia di mana pria tidak bisa mengekspresikan emosinya dan wanita tidak bisa mengekspresikan kekuatannya.” Ini menggambarkan pentingnya menjaga kesetaraan tanpa meniadakan karakter gender.

Jadi, bagaimana kita dapat menjaga kesetaraan sambil tetap menghormati karakter gender? Pertama, kita perlu memahami bahwa asertivitas adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan diasah oleh siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin. Menghadiri lokakarya atau kelas tentang asertivitas dapat memberi kita alat dan teknik yang diperlukan untuk menjadi lebih asertif, tanpa harus menghubungkannya dengan karakter gender.

Selain itu, penting untuk menghormati orang lain dan hak-hak mereka dalam proses menjadi asertif. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Catherine A. Sanderson, seorang profesor di Amherst College, “Menjadi asertif tidak berarti bahwa kita harus menginjak-injak orang lain. Itu adalah tentang mengekspresikan diri dengan jelas, tanpa mengorbankan orang lain.”

Ini berarti bahwa baik pria maupun wanita harus belajar untuk berkomunikasi dengan efektif, dengan mempertimbangkan perasaan dan perspektif orang lain, sambil tetap setia pada kebutuhan dan keinginan mereka sendiri.

Dalam era di mana perjuangan kesetaraan gender semakin berkembang, penting untuk menghapus batasan-batasan yang diberlakukan oleh karakter gender dalam hal asertivitas. Dengan menghormati karakter gender masing-masing dan pada saat yang sama menjaga kesetaraan, kita bisa menciptakan dunia di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi asertif.

Jadi mari kita berdiri bersama dalam memerangi stereotipe yang merugikan kita semua dan menjaga kesetaraan tanpa meniadakan karakter gender. Seperti yang diungkapkan oleh astronot terkenal, Mae Jemison, “Tak ada alasan mengapa kita tidak bisa memiliki masyarakat yang adil dan yang tetap menghormati perbedaan-perbedaan kita.”

Referensi:
– Alberti, R. E., & Emmons, M. L. (2008). Your perfect right: A guide to assertive living (Expanded 10th ed.). Impact Publishers.
– Bell Hooks. (n.d.). BrainyQuote.com. Diambil dari: https://www.brainyquote.com/quotes/bell_hooks_747849
– Sanderson, C. (2011). Social psychology. Wiley.
– Mae Jemison. (n.d.). Diambil dari: https://www.americanquote.co/quotes/358235-mae-jemison-tak-ada-alasan-mengapa-kita-tidak-bisa-memilik

Categorized Tag Cloud

Tags

Dampak Togel Bagi Bagi Kesehatan mental