Mengapa Drakor Membahas Masalah Kesehatan Mental?

Selama beberapa tahun terakhir, drama Korea atau yang lebih dikenal dengan sebutan drakor telah merajai dunia hiburan. Penonton dari berbagai negara terpikat dengan cerita yang menarik, karakter yang kuat, dan tentu saja, chemistry antara para aktor dan aktrisnya. Namun, menariknya, drakor tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan perhatian kepada isu-isu sosial yang kompleks, termasuk masalah kesehatan mental.

Mengapa drakor membahas masalah kesehatan mental? Apa yang menjadikan hal ini menarik bagi para penulis skenario dan produser drakor? Menurut pakar psikologi, Dr. Nurul Siti, drakor memiliki daya tarik khusus karena mampu menggambarkan kehidupan manusia secara emosional. “Dalam drakor, kita bisa melihat karakter-karakter yang berjuang dengan masalah emosional seperti stres, depresi, dan kecemasan. Hal ini membuat para penonton merasa terhubung secara emosional dengan cerita dan karakter-karakternya,” jelas Dr. Nurul.

Dalam beberapa seri terkenal seperti “It’s Okay to Not Be Okay” dan “Kill Me, Heal Me”, drakor menggambarkan tokoh utama yang menderita penyakit mental, seperti gangguan kepribadian ganda, depresi, dan gangguan kecemasan. Menurut drakorpedia, penggambaran penyakit mental dalam drakor tidak hanya memberikan fokus terhadap isu-isu tersebut, tetapi juga menggambarkan proses pemulihan yang mungkin terjadi. “Drakor memberikan representasi karakter yang berjuang dengan penyakit mental, tetapi juga menunjukkan upaya mereka untuk mencapai pemulihan dan mengatasi rintangan yang ada,” ungkap Dr. Nurul Siti.

Hal ini juga didukung oleh Profesor Kim Ji-soo, seorang ahli psikologi dari Universitas Seoul, yang menjelaskan bahwa drakor memberikan pengertian dan keterlibatan emosional yang lebih dalam terhadap masalah ini. “Dalam menggambarkan karakter-karakter yang memiliki gangguan mental, drakor mampu menyoroti kompleksitas kondisi tersebut dan mengingatkan kita bahwa ada banyak cara untuk membantu seseorang yang menderita,” ujar Profesor Kim.

Drakor juga memanfaatkan pengaruh mereka untuk mengurangi stigma yang melekat pada kesehatan mental. Drama seperti “It’s Okay to Not Be Okay” secara terang-terangan membahas pentingnya pemahaman dan dukungan dari masyarakat terhadap individu dengan penyakit mental. Dalam wawancara dengan Korean Film Council, produser “It’s Okay to Not Be Okay”, Park Soo-jin, mengatakan, “Kami berharap bahwa dengan menceritakan kisah ini, kami dapat menghancurkan batas-batas sistematis yang mengarah pada ketidakmemahaman tentang penyakit mental.”

Penulis skenario drakor terkemuka, Kim Soo-hyun, juga berpendapat bahwa mengangkat masalah kesehatan mental dalam drakor adalah bagian dari tanggung jawab moral mereka. “Sebagai kreator cerita, kita memiliki panggung besar untuk menyampaikan pesan sosial dan menghasilkan perubahan positif. Menangani masalah kesehatan mental adalah salah satu cara kita dapat memengaruhi masyarakat untuk lebih terbuka, memahami, dan mendukung satu sama lain,” kata Kim.

Mengangkat isu kesehatan mental dalam drakor benar-benar sejalan dengan pergeseran sikap masyarakat hari ini. Masyarakat semakin terbuka dan sadar akan pentingnya mendukung individu dengan masalah mental. Drakor, dengan pengaruhnya yang besar, berhasil menyampaikan pesan-pesan penting ini dengan indah dan menginspirasi. Jadi, saat menonton drakor berikutnya, mari kita coba mendapatkan pelajaran berharga tentang kesehatan mental serta menyebarkan pemahaman dan dukungan kepada mereka yang membutuhkannya.

References:
1. Drakorpedia. (2021). Penyakit Mental dalam Drakor. Retrieved from https://www.drakorpedia.com/penyakit-mental-dalam-drakor/
2. Korean Film Council. (2020). It’s Okay to Not Be Okay Q&A. Retrieved from http://koreanfilm.or.kr/eng/news/features.jsp?blbdComCd=601018&seq=182&mode=FEATURES_VIEW

Categorized Tag Cloud

Tags

Dampak Togel Bagi Bagi Kesehatan mental